Masih banyak orang tua
yang memiliki pola pikir bahwasanya menghafal al-Qur’an hanya akan menghabiskan
waktu. Lebih penting mendalami matematika, fisika, maupun bahasa inggris
daripada harus menghafal Qur’an. Padahal menghafal Qur’an dapat mencerdaskan
otak. Contoh nyata adalah anak-anak program mulazamah MIT Isy Karima. Mereka
hanya menyentuh matematika seminggu sekali. Tapi, mereka dengan mudahnya
memahami pelajaran hanya dengan satu kali penjelasan dari gurunya. Subhanallah…
Ternyata menghafal
al-Qur’an dapat mencerdaskan otak. Buktinya terdapat pada sosok Ibnu Sina,
orang yang buku dan tulisannya menjadi pedoman pembelajaran ilmu kedokteran di
seluruh dunia. Sebelum mempelajari ilmu lainnya, beliau menghafal al-Qur’an
terlebih dahulu. Ada lagi al-Khawarizmi yang hingga kini teori algoritmanya di
pakai oleh seluruh matematikawan dunia. Beliau memulai semuanya dengan
menghafal al-Qur’an.
Hebatnya lagi, banyak
generasi terdahulu yang menghafal al-Qur’an dan dapat menguasai tidak hanya
satu disiplin ilmu saja. Tetapi juga berbagai macam disiplin ilmu, baik itu
ilmu syar’i ataupun ilmu umum. Misalnya saja Ibnu Sina, beliau tidak hanya
menguasai ilmu kedokteran. Ibnu Sina juga ahli dalam masalah fiqih, tafsir, dan
bahasa arab. Adalagi Imam Ghazali yang bukan hanya seorang filsuf Islam, tapi
juga mahir dalam logika dan kosmologi. Subhanallah, semua itu bermulai dari
menghafal al-Qur’an.
Para psikolog modern
menyebutkan bahwa tingkat perkembangan intelektual otak anak, sejak lahir
sampai usia 4 tahun mencapai 50%. Oleh karena itu, pada masa empat tahun
pertama ini sering disebut sebagai Golden Age (masa keemasan), karena si anak
mampu menyerap dengan cepat setiap rangsangan yang masuk. Si anak akan mampu
menghafal banyak sekali informasi, seperti perbendaharaan kata, nada,
bunyi-bunyian dan sebagainya. Hingga usia 8 tahun, anak telah memiliki tingkat intelektual
otak sekitar 80%. Perkembangan intelektual otak ini relatif berhenti dan
mencapai kematangannya (100%) di usia 18 tahun.
Salah jika ada orang
yang berpandangan bahwa melatih dan mendidik hafalan al-Qur’an pada anak dapat
mengganggu kecerdasan berfikirnya. Justru malah sebaliknya, melatih anak
menghafalkan al-Qur’an malah dapat meningkatkan kecerdasannya.
Dalam sebuah seminar
konseling dan psikoterapi islam, Dr. Nurhayati, seorang peneliti dari Malaysia
mengemukakan hasil risetnya bahwa bacaan Al-Qur’an ternyata dapat meningkatkan
IQ bayi yang baru lahir. Dalam penelitiannya, beliau mengungkapkan bagaimana
seorang bayi yang berusia 48 jam langsung memperlihatkan reaksi wajah ceria dan
sikap yang lebih tenang begitu diperdengarkan suara al-Qur’an. Subhanallah…!
Dr. Nurhayati juga
mengatakan bahwa jika mendengarkan musik klasik saja, dianggap dapat
mempengaruhi kecerdasan intelektual (IQ) dan emosi (EQ). Maka bacaan al-Qur’an
tentu manfaatnya lebih besar lagi, bahkan berlipat. Bacaan al-Qur’an mampu mempengaruhi
IQ, EQ dan SQ sekaligus.
Tahfizh al-Qur’an di
usia kanak-kanak akan melatih sensitifitas indera pendengaran mereka. Semakin
sensitif indera pendengaran anak mendengar lafazh-lafazh ayat al-Qur’an yang
diabacakan, maka semakin mudah anak menjadi fasih mengulang bacaan yang
didengarnya.
Selain itu, tahfizh
al-Qur’an dapat melatih anak untuk berkonsentrasi tinggi. Semakin banyak ayat
yang bisa dihafal oleh anak dan hafalannya terpelihara dengan baik, berarti
konsentrasi anak akan semakin tinggi. Biasanya, semakin banyak ayat yang
dihafal, maka semakin cepat pula untuk menghafal ayat-ayat lainnya. Hal ini
mengindikasikan bahwa terjadi proses perbaikan konsentrasi menjadi semakin
tinggi, seiring bertambahnya ayat-ayat al-Qur’an yang dihafal.
Dari semua ilmu, ilmu
Qur’anlah yang paling utama. Dari semua kitab (buku) al-Qur’anlah yang paling
mulia. Jika kita mempelajari al-Quran dan berinteraksi dengannya, sejatinya
kita sedang mengambil jalan kemuliaan dihadapan Allah sang pemilik ilmu.
Dan karenanyalah, Insya
Allah sang penghafal al-Quran akan mendapat jaminan kemudahan dari Allah
subhanahu wa ta’ala dalam dua bentuk, kemudahan mempelajari al-Quran
(al-Qamar:17) dan karunia kemudahan pada ilmu-ilmu yang lain (QS
Al-Mujadilah:11).
Masih ingat dengan Tabarak,
Yazid dan Zaeenah. Anak-anak luar biasa yang sudah menjadi keluarga Allah
(penghafal Qur’an) di usia yang masih sangat muda 4,5 tahun. Ayah mereka, Dr.
Kamil Labudi bercerita bahwa prestasi anak-anaknya terbilang baik di sekolah.
Hafalan Qur’an yang mereka miliki memudahkan mereka mempelajari ilmu lainnya.
Nah… yang mau
anak-anaknya atau adik-adiknya atau sepupunya atau ponakannya pintar, mulai
ajari mereka untuk menghafal Qur’an sejak usia dini. Karena menghafal di waktu
kecil bagai mengukir di atas batu. Eits… kita juga jangan mau kalah sama
adik-adik kecil itu. Mari kita mulai menghafal Qur’an sedikit demi sedikit.
Karena orang yang tidak mempunyai hafalan al-Qur’an sama sekali bagaikan rumah
yang roboh.
Menghafal al-Qur’an
bukanlah suatu hal yang sulit. Sebenarnya al-Qur’an itu telah terprogram dalam
otak kita. Akan tetapi hanya hamba yang mendapatkan taufik dari Allah yang bisa
menjernihkan otaknya sehingga bisa membuka program ini dan mengunduhnya dalam
kehidupannya yang nyata melalui berbagai sarana. Dan Allah telah menggaransi
hal itu dalam surat al-Qamar. Bahkan Allah mengulangnya sebanyak empat kali,
Sesungguhnya Kami telah memudahkan al-Qur’an untuk diingat, maka adakah yang
mau mengambil pelajaran?
Wallahu ta’ala a’lam
Sumber: http://isykarima.com/anak-cerdas-dengan-menghafal-al-quran/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar